SeLaMaT DaTanG Di SeBuaH TeMPaT yG PaLinG iNDaH Di DuNiA iNi.....!!!!

SeLaMaT DaTanG Di SeBuaH TeMPaT yG PaLinG iNDaH Di DuNiA iNi.....!!!!DuNiA SeNi "YuDi iLHaM"

Selasa, 13 Maret 2012

PuiSi Yudi iLHaM - YanG TeMaRaM


Yang Temaram
Oleh : Yudi Ilham 
Saat menyapamu
usai melihat dari sudut kerling yang malu
aku terkulai menantimu 
dipengap naungan tak berarti

Bibir kecilmu tak dapat kulukis
dengan kanvas khayal malam ini
terpaut dua bimbang
berkerut alis dimukaku
membeku darah dijasadku
hanya kamu yang sanggup lelehkan
                                                                                                                                               
Sepi bergumul sendu
tapi kau tak mengerti
hanya sepi temaram yang datang menggantikanmu....,

PuiSi Yudi iLHaM - PeRJaLaNaN TanPa EnGKaU


Perjalanan Tanpa Engkau

Ku lalui semua neraka
hingga rambut jadi petir
kuku jadi tanduk
ku lalui semua dengan lantang tawa menggelegar

Meski hidup memang tak bisa sendiri
namun aku jelas sendiri

Dalam pahit dan pekat si arang hitam
aku bercinta denga seribu sembilu
di tengah lantunan jerit sengau

Kau separuh nyawa yang telah hilang
menemukanmu kembali
bagai menengok intan di tengah samudera putih

Tak kuasa menggodaku untuk berkata
betapa hidup ini terlalu sulit tanpa engkau

PuiSi Yudi iLHaM - HaRi SeSaT


Hari Sesat



Hari demi hari yang begitu kelam
menyapa ku dengan sentuhan tajam dengan corak kejam
Hati terpaut pada duka sembilu
Tergores lara dalam kalbu
Uuuuhhh... duka...,
semangatmu menghantam jalanku
kau warnai hariku dengan merah darah
kau simak aku dengan petaka
dalam pelarianku mencari terang
di sela jendela anganku
kau nodai aku tak kenal ampun
sampai ku terkapar
di sini...,
Saat ini…,
dalam hari sesat

PuiSi Yudi iLHaM - SKeTSa SenDiRi


Sketsa Sendiri

Saat merah di kaki langit
mulai berlayar kapal bersandar
mulai tekemas semua cerita
mulai terulas semua ingatan
Namun aku...
masih menatap hidup yang merah
dalam relung jiwa yang resah
memaksa hati bicara pada senja petaka
yang menjadi sendu dalam riang
tanpa sempat beri sanjungan
pada gemerlap jingga di kaki langit

Kini hanya satu bayang
terbentuk dari selaksa pijar yang temaram
mencoba mengerti sebuah perjalanan panjang yang lara
manyapa aku pada sebuah derita yang bergelayut dalam ruang mimpi
Sesaat aku masih terpaku
menatap diri
dalam sketsa sendiri


PuiSi Yudi iLHaM - Lenyap


L e n y a p

Karya : Yudi Ilham
Duka hari ini
adalah duka seribu tahun
Telah lelah
telah retak kantung air mata
dalam hidup berpayas kematian
Walau sudah tiada tempat bagiku dalam rahim ibu lagi
akupun rela menjadi kotoran kering di pinggir parit
Kini...
atas nama kematian
kupersembahkan sebuah hidup yang sakarat dan pekat
Hidup adalah leher mayat
yang terjerat sarat dengan kawat
dalam tungku api jahannam
terbakar...
hina....
hidup walau mati
tak terampunkan lagi 
Hanya sejak kau berlalu dengan senyuman terakhir itu..,
aku telah lenyap...,

Sabtu, 14 Januari 2012

"Gerabah" : Sejarah dan Peranannya

Dalam dunia arkeologi istilah gerabah sudah sangat terkenal. Namun, orang awam pun mengenalnya dari sisi yang lain. Berbegai benda yang dihasilkan oleh para pengrajin, seperti gentong, pasu, pot bunga, mangkok, cobek, kendi, dan sebagainya, serta seringnya diadakan pameran, menandakan benda ini cukup populer di mata masyarakat.
Istilah gerabah ini biasanya untuk menunjukkan barang pecah belah yang terbuat dari tanah liat. Selain dengan sebutan di atas, ada pula sebagian orang menyebutnya dengan tembikar dan sebagian lagi keramik lokal, untuk membedakannya dari istilah keramik asing.
Gerabah dibuat dari satu atau dua jenis tanah liat yang dicampur. Warnanya tidak bening, berpori, dan bersifat menyerap air. Campuran yang digunakan terdiri dari pasir kasar atau pasir halus, dan pembakarannya antara 1000-1150 derajad Celcius. Kadang-kadang lebih rendah dari itu.
Diduga gerabah pertama kali dikenal pada masa neolitik (kira-kira 10.000 tahun SM) di daratan Eropa dan mungkin pula sekitar akhir masa paleolitik (kira-kira 25.000 tahun SM) di daerah Timur Dekat. Menurut para ahli kebudayaan, gerabah merupakan kebudayaan yang universal (menyeluruh), artinya gerabah ditemukan di mana-mana, hampir di seluruh bagian dunia. Perkembangannya bahkan juga penemuannya muncul secara individual di tiap daerah tanpa harus selalu mempengaruhi. Mungkin juga masing-masing bangsa menemukan sendiri sistem pembuatan gerabah tanpa adanya unsur peniruan dari bangsa lain.
Gerabah muncul pertama kali pada waktu suatu bangsa mengalami masa foodgathering (mengumpulkan makanan). Pada masa ini masyarakat hidup secara nomaden, senantiasa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam corak hidup seperti itu wadah gerabah dapat digunakan secara efektif karena gerabah merupakan benda yang ringan dan mudah dibawa-bawa. Selain itu gerabah juga merupakan benda yang kuat, paling tidak lebih kuat daripada yang dibuat dari bahan lain, seperti kayu, bambu atau kulit binatang.
Yang terpenting, bahan pembuatan gerabah mudah didapat. Tanah liat terdapat di mana-mana. Karena itu adalah suatu hal yang wajar jika setiap masyarakat bisa menjadi produsen bagi kepentingannya sendiri. Akan tetapi mengenai proses ‘penemuan’ gerabah itu sendiri, belum satu orang pun bisa menguraikannya secara ilmiah. Barangkali bisa diuraikan begini. Pada waktu itu beberapa orang sedang membakar hasil buruannya. Kebetulan pembakaran itu dilakukan di atas tanah yang tergolong jenis tanah liat. Setelah selesai membakar daging itu, mereka mendapatkan tanah di bawahnya berubah menjadi keras. Dari sinilah muncul gagasan untuk membuat suatu wadah dari tanah liat yang dibakar.
Pembuatan gerabah jelas membutuhkan api sebagai faktor yang utama, meskipun panas matahari barangkali dapat juga dipakai untuk fungsi yang sama. Karena itu dapat dipastikan bahwa munculnya gerabah merupakan efek lain dari penemuan dan domestikasi api. Masyarakat yang belum mengenal api tentulah mustahil bisa memproduksi gerabah. Dengan demikian, tafsiran bahwa gerabah mula pertama dikenal pada masa neolitik dapat diterima, sebab penemuan dan domestikasi api baru dikenal pada akhir masa paleolitik atau awal masa neolitik.
Melalui temuan-temuan lainnya diketahui bahwa pada masa itu manusia hidup dalam corak berburu dan mengumpulkan makanan. Usaha mengumpulkan makanan berarti membutuhkan ‘sesuatu’ untuk wadah makanan tersebut. Dalam hal ini wadah yang paling tepat adalah gerabah karena gerabah mudah dibawa ke mana saja. Dan ini sesuai dengan corak hidup nomaden. Karena itulah gerabah memiliki arti yang penting bagi manusia, sehingga ia dapat diterima dalam setiap kebudayaan dan terus semakin berkembang selama belum ditemukan wadah lain yang memiliki tingkat efektifitas setinggi gerabah.
Penggunaan wadah gerabah oleh suatu kelompok manusia memiliki arti penting bahkan jauh lebih penting daripada yang bisa kita bayangkan. Dengan dikenalnya wadah yang kecil, mudah dibawa dan kuat, suatu kebudayaan maju selangkah lagi ke arah kebudayaan yang lebih tinggi. Apa lagi dengan dikenalnya corak kebudayaan hidup menetap, fungsi gerabah semakin meluas. Kebutuhan gerabah yang beraneka ragam melahirkan tipe-tipe gerabah yang semakin banyak. Kalau sebelumnya digunakan wadah lain yang jauh lebih sulit diperoleh, kini mereka bisa membuat wadah gerabah yang lebih mudah didapat.
Gerabah sebagai salah satu benda hasil kebudayaan manusia merupakan unsur yang paling penting dalam usaha untuk menggambarkan aspek-aspek kehidupan manusia. Sampai kini gerabah yang berhasil ditemukan terutama berbentuk wadah, seperti periuk, cawan, pedupaan, kendi, tempayan, piring, dan cobek.
Gerabah atau kereweng (pecahan gerabah) sering kali ditemukan di anatara benda-benda lain pada situs arkeologi. Untuk keperluan studi arkeologi temuan ini sangat besar manfaatnya, karena gerabah merupakan alat penunjuk yang baik dari kebudayaan yang berbeda. Beberapa kereweng yang dapat dikenali tipenya bisa digunakan untuk menanggali benda-benda lain yang ditemukan di sekitarnya dan dapat pula digunakan untuk menentukan hubungannya dengan kebudayaan lain. Selain itu gerabah merupakan benda yang sulit hancur sama sekali, terlebih lagi kalau tersimpan dalam tanah. Itulah sebabnya gerabah yang telah berusia puluhan ribu tahun pun masih bisa dikenali. Demikianlah melalui studi "gerabah" ini, arkeologi bisa berbicara banyak tentang masa lampau umat manusia. Asal saja para ahli dapat membaca dengan baik cerita-cerita yang didapat darinya.